Hidup di zaman edan
gelap jiwa bingung pikiran
turut edan hati tak tahan
jika tidak turut
batin merana dan penasaran
tertindas dan kelaparan
tapi janji Tuhan sudah pasti
seuntung apa pun orang yang lupa daratan
lebih selamat orang yang menjaga kesadaran
(R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873)
Ronggowarsito adalah seorang pujangga penutup, pujangga terakhir yang mampu menangani persoalan-persoalan spiritual. Ia bekerja sebagai carik istana pada masa pemerintahan raja Paku Buwono IX. Sebagai seorang pujangga, ia memiliki kemampuan menangkap tanda alam dan tanda zaman, namungkrida. Bahkan, ia pun dapat meramalkan hari kematiannya sendiri.
Banyak hal yang dapat diramalkan Ronggowarsito, yaitu mengenai permasalahan sosial dan politik, termasuk mengenai kondisi alam dan masyarakat yang bergejolak diakibatkan para penguasa yang telah terjangkiti pamrih, kehendak untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan sendiri, keluarga atau pihak-pihak tertentu.
Kutukan zaman merupakan bahaya laten dalam dunia dan kehidupan manusia. Keedanan ada di setiap zaman, dan setiap orang mempunyai potensi yang sama untuk terangkiti penyakit zaman edan ini, meski dengan derajat kesempatan yang berbeda-beda.
Sikap eling mengajari manusia bahwa jati dirinya adalah makluk spiritual, dan mendorong untuk selalu berpegang kepada spiritualitas yang tidak lain adalah inti dirinya yang terdalam. Sikap waspada mengingatkan bahwa dorongan nafsu ke arah pinggir lingkaran eksistensi selalu ada ada di setiap sudut kehidupan, sehingga kewaspadaan harus tetap dijaga. Sedangkan sikap sabar mendorong manusia untuk menghayati sikap kewaspadaannya. Untuk bisa menanggulangi bahaya nafsu, diperlukan perjuangan yang tidak ringan dan bahkan perlu pengorbanan. Memerangi kejahatan tidak cukup dengan niat baik semata.
Karya-karya Ronggowarsito yang "futuristik" aslinya berbentuk tembang, dengan guru lagu (persanjakan) dan guru wilangan (jumlah suku kata) yang sistematis. Sedangkan penerjemahannya dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Berikut ini beberapa karya Ronggowarsito yang indah di bahasa dan maknanya. Baik untuk kita mengerti dan pahami. Monggo.....
""Apabila sudah sering menyaksikan hal-hal yang tak pernah terlihat, tanda kurang satu tahun... Setelah sering mendengar yang tak pernah terdengar, misalnya mendengar percakapan jin, setan dan binatang-binatang, tanda kurang setengah tahun... Seringnya berubah penglihatan, misalnya melihat langit berwarna merah, matahari dan bulan kelihatan hitam, bayangan dirinya kelihatan dua, tanda kurang dua bulan... Kalau kelihatan jarinya sudah berkurang, pergelangan tangan kelihatan putus, tanda kurang satu bulan... Setelah kelihatan rupa diri sendiri, tanda kurang setengah bulan... Bila telah merasa enggan, tidak menginginkan sesuatu, tanda kurang tujuh hari... Bila denyut tangan sudah tidak ada, gemerisik telinga berhenti, dan akhirnya ujung kemaluan sudah terasa dingin, tanda telah menginjak hari kiamat, bangkit secara pribadi." (Simuh, 1998)
Jika tidak demikian, pasti tertukar iblis, ketika ibunya bersenggama dengan bapaknya dulu, setan ikut bersenggama, jika bukan hantu, karenanya bertindak sesat, berlaku bejat, menindas sesama bangsa. Memuja nafsu diri, ingin dipuji sebagai pandai, perempuan lacur, nampak bagai bidadari, jika merasa tersinggung, sesama bangsa lalu berkelahi, tanpa tenggang rasa, mengancam-mengintimidasi, apakah akan begitu kalau memang berani. Beraninya dengan bangsa sendiri, sampai rela mengorbankan jiwa, biasanya orang yang memang pemberani, seperti Sultan Mangkubumi, pertapa dan rendah hati, selalu pandai membawa diri, segela perselisihan dihindari, berkata baik tak pernah menyakiti, sederhana namun mumpuni, tidak mau memusuhi bangsa sendiri. (Poerbatjaraka, 1954)
Gosip dan rumor menyebar
bagai angin membawa berita
janji pangkat dan kedudukan
namun semua hanya bualan
padahal jika dicerna
jadi pejabat untuk apa
bila menanam benih dosa
disiram air lupa
hanya akan berbunga bencana
Segala tugas dijalani
dengan segenap kekuatan hati
tiada masalah dan persoalan
karena hikmah telah mengajarkan
bahwa manusia wajib berusaha
sebagai jalan menuju keselamatan
dalam mencari penghidupan
selalu ingat dan waspada
mengharap kasih sayang Tuhan
Ya Allah, ya Rasulullah
pemilik sifat welas dan asih
semoga berkenan melimpahkan
pertolongan yang mencukupi
di dunia maupun kelak di akhirat nanti
aku sadar akan hidupku yang kini telah
di ujung akhir bagai senja yang merah
bagaimanakah akhir kisahku ini?
bimbingan Allah satu-satunya harapan
Di saat zaman terkena bencana
kerendahan budi merajalela
kekacauan di berbagai tempat
niat menyimpang dan berbuat jahat
kelurusan hati tak lagi terlihat
Mari perhatikan dan cermati
di zaman yang sedang terkena halangan
sebaiknya mengurangi nyala di hati
hanya membawa kepada kesusahan
buah dari jahatnya perbuatan
Hilangnya akal sehatnya
debu yang tertiup angin nafsu
tingkah polahnya membawa bencana
janji-janjinya membawa kecewa
tunggulah balasan yang akan tiba
Keadaan sudah sangat mengenaskan
tanda yang tiba memang benar adanya
terlalu menyedihkan untuk dirasa
menarik rasa iba orang negara lain
melihat pemandangan di zaman prihatin
Dengan tangan terlipat di dada
ki pujangga berkidung menasehati
dandang gula Palaran sejati
menghidupkan warisan leluhur
tekanan kebaikan dua penguasa
Warta dari para cerdik pandai
pertanda yang mengalir tanpa henti
ketika zaman berubah besar-besaran
kesulitan datang silih berganti
hidup makin berat dijalani
Puncak zaman terkutuk
kebenaran tak lagi tampak oleh mata hati
kejernihan pikiran telah tumbang
memang belum saatnya reda
bahkan malah makin menjadi
Perundangan berbaris-baris
dijalankan sekehendak hati
menjalani jalan keuntungan diri
gelap hati gelap tindakan
membawa kacau-balau isi dunia
Sekilas saja telah terlihat
keadaan zaman yang makin gawat
berantakan dan ruwet kehidupan umat
hilang sudah ketenangan
orang menangis di sembarang tempat
Membongkar gunung-gunung
melahap hutan-hutan
tanpa ada yang berani mencegah
takut terkena semburan ludah
yang beracun dan mematikan
Nanti akan datang orang suci
mengajak mencari kesatuan
pakaian berdebu bagai orang gila
mondar-mandir sepanjang jalan
memberitahukan kepada semua orang
Itulah saat redanya kutukan zaman
berganti zaman kesenangan
rakyat jelata tertawa gembira
berlimpah makanan dan pakaian
terlaksana setiap keinginan
Keinginan hati telah terlaksana
bagai air wayu sejuk menyiram jiwa
kesejahteraan turun-temurun tak pernah henti
persahabaan terjalin dengan banyak negara
dihormati di mana-mana
Harta kekayaan melimpah ruah
tidak ada yang merebut atau mencuri
hewan ternak di luar rumah
tiada hilang ataupun pergi
Merata di seluruh negeri
tampilnya pejabat pilihan dan ahli
tuntaskan persoalan besar maupun kecil
memegang amanah dan dapat dipercayai
kejayaan masa lalu telah kembali
Penglihatan pujangga belum berakhir
benang ditarik yang terus mengalir
namun terhambat oleh umur
kepastian ajal yang telah dekat
pulang ke ruma abadi
Kurang delapan hari lagi
saat kematian yang pasti
terlihat di lauhil mahfudz
jatuh saat tengah hari
pada hari Rabu Pon ini
Ditulis hari Rabu tanggal dua delapan
bulan Syawal tahun Jimakir
bertanda tahun candrasengkala
nembah muka pujangga ji
sang pujangga pamit mati

Sabar adalah wujud sikap penuh kepasrahan untuk mengalah,apabila manusia sampai taraf ini, maka dirinya akan mudah melihat kelemahan lawan,karena pada dasarnya sabar adalah mentolelir sikap atau perbuatan orang lain dengan mengandaikan apabila sikap atau perbuatan tsb kita yang melakukan,sepanjang ia kuat maka berarti dia tau batas2 kekuatan orang lain,dan itu menunjukkan dia lebih kuat diatas level lawannya.Belajar untuk sabar adalah sama halnya belajar untuk mengabaikan rasa sakit.
BalasHapusDengan kesabaran maka seseorang akan mampu meredam deburan gelombang amarah,sehingga sang eling dan waspada dibawah kendalinya.Para pemimpin negeri ini sudah tidak berpegang teguh pada kesabaran,tidak mau menunggu terlalu lama untuk menumpuk kekayaan dan mencapai puncak kekuasaan,akhirnya dia berubah menjadi orang yang kehilangan eling dan kewaspadaanya,senang berselisih,menindas sesama bangsa.
Jaman dahulu kala musuh yang dihadapi bangsa ini relatif lebih sedikit, dibanding jaman sekarang, dulu kala musuh kita hanya penjajah dan peghianat bangsa,sementara untuk waktu sekarang ini kita bertempur melawan :
1.Penjajah dari bangsa lain tanpa terlihat, pasukan, tetapi cukup berbahaya bagi bangsa ini.
2.Penjajah dari bangsa sendiri,baik sesama rakyat maupun oknum2 pemerintah dengan seabrek peraturan yang ujung2nya melahirkan kewajiban untuk membayar pajak (alat untuk menghisap rakyat)
3.Diri sendiri, nurani sering sulit kita ikuti,sehingga kadang kita berat untuk melawan penjajah dari bangsa sendiri.
Pekerjaan paling sulit adalah berperang dengan penjajah dari bangsa sendiri,khususnya yang berkedok sebagai penguasa dan alat2 kekuasaan negeri ini,dibutuhkan keikhlasan dan keberanian. Dengan Niat suci niscaya keberanian dan akal sehat untuk berperang melawan penjajah dari bangsa sendiri akan muncul.Serang,hancur dan musnahkan sifat angkara mereka.Perang tidak selamanya harus dengan fisik...perangilah jiwa2 angkara mereka,luruskan,dan kembalikan kejalan yang benar,sehingga mereka2 benar2 sebagai bagian dari bangsa ini,se iya sekata,senasip sepenanggungan.
He.he.he kepanjangan ya….sooooiiirrrr….
Bumi sudah tua...
BalasHapusangkara sudah mengubun...
sedikit demi sedikit terungkap dengan bencana yang bertubi...
sudah sepantasnya sang penguasa dan kita semua untuk intropeksi dan mawas diri...
hidup bukan untuk saat ini saja...
kita juga akan mewariskan Indonesia ini kepada anak cucu kita...
sadarlah wahai penguasa...
sadarlah wahai manusia...
demi NKRI tercinta...
demi pewaris kita semua...