Tetes air itu bening.
Tetes air itu perih.
Sembilu itu terlalu dalam menikam ulu hatinya.
Hidup ini kejam.
Hidup ini suram.
Pelik cintanya dicumbu patriarkat yang terlalu mengikat.
Cinta kekasihnya murka.
Cinta kekasihnya buta.
Meluruhkan segala hormat, kasih, dan cinta.
Habis sudah jiwa.
Kelam sudah raga.
Terlalu lelah lautan khilaf menampungnya.
Cahaya itu redup sudah.
Malam pun menjadi sahabat.
Benih itu terlanjur tebarkan dosa di rahimnya.
Dia tertawa diatasnya.
Dia bahagia dengan tangisnya.
Dan dia pun muak dengan cinta kekasihnya.
Cukup sudah rasa.
Cukup sudah manusia.
Biarkan saja cinta itu membusuk di balik keangkuhannya.
buat teteh sexy…
sabar atuh teh… dunia ini Allah yang punya…
hapus sudah air mata… smile atuh for de world…
Tetes air itu perih.
Sembilu itu terlalu dalam menikam ulu hatinya.
Hidup ini kejam.
Hidup ini suram.
Pelik cintanya dicumbu patriarkat yang terlalu mengikat.
Cinta kekasihnya murka.
Cinta kekasihnya buta.
Meluruhkan segala hormat, kasih, dan cinta.
Habis sudah jiwa.
Kelam sudah raga.
Terlalu lelah lautan khilaf menampungnya.
Cahaya itu redup sudah.
Malam pun menjadi sahabat.
Benih itu terlanjur tebarkan dosa di rahimnya.
Dia tertawa diatasnya.
Dia bahagia dengan tangisnya.
Dan dia pun muak dengan cinta kekasihnya.
Cukup sudah rasa.
Cukup sudah manusia.
Biarkan saja cinta itu membusuk di balik keangkuhannya.
buat teteh sexy…
sabar atuh teh… dunia ini Allah yang punya…
hapus sudah air mata… smile atuh for de world…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar