- Kata-kata lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari batu.
- Berpikir negatif akan dapat melemahkan diri.
- Harta yang paling menguntungkan adalah SABAR.
- Teman yang paling akrab adalah AMAL.
- Pengawal pribadi yang paling waspada adalah DIAM.
- Bahasa yang paling manis adalah SENYUM.
- Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat mewujudkan perselisihan.
- Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan.
- Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan.
- Orang mulia menyalakan dirinya, orang bodoh menyalahkan orang lain.
- Sesuatu yang baik belum tentu benar.
- Sesuatu yang benar belum tentu baik.
- Sesuatu yang bagus belum tentu berharga.
- Sesuatu yang berharga/berguna belum tentu bagus.
- Musuh yang paling berbahaya di dunia ini adalah penakut dan bimbang.
- Teman yang paling setia hanyalah keberania dan keyakinan yang teguh.
- Keraguan akan menghambat keberhasilan.
- Kemenangan yang pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri.
- Kesempatan yang ada haruslah kita gunakan dengan sebaik-baiknya.
- Jangan menunggu keberhasilan atau kesuksesan.
- Keberhasilan harus diraih bukan ditunggu.
- Sesuatu yang belum dikerjakan seringkali tampak mustahil.
- Dalam masalah hati nurani, pikiran pertamalah yang terbaik.
- Dalam masalah kebijakan, pikiran terakhirlah yang terbaik.
- Cara untuk menjadi di depan adalah memulainya dari sekarang.
- Hati yang bersyukur merupakan induk dari segala kebajikan yang lain
- Hati yang bersyukur merupakan induk dari segala kebajikan yang lain.
- Semua yang dimulai dengan marah akan berakhir dengan malu.
- Persahabatan adalah tanggung jawab yang manis, bukannya peluang.
- Sahabat adalah keperluan yang mesti dipenuhi.
- Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan.
- Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu bertengkar.
- Kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau.
- Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya.
- Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui.
- Ilmu adalah harta yang tak akan habis walaupun sering diberikan.
- Malas mencari ilmu, kalang kabut dalam menyelesaikan urusan hidupnya.
- Kekurangan ilmu mengakibatkan kemiskinan lahir batin.
- Ilmu bagaikan sinar yang tak kunjung padam.
- Ilmu akan bermanfaat ketika berbagi ilmu dengan orang lain.
- Memberi dengan tangan kanan dan usahakan tangan kiri tidak tahu.
- Kita bertanggung jawab terhadap baik/buruknya pendidikan anak.
- Saya tidak bisa sukses karena pendidikan saya rendah.
- Guru yang paling baik adalah pengalaman.
- Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya malu-maluin.
- Hidup seperti roda yang terus berputar, kadang di bawah kadang di atas.
- Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
- Tidak ada gading yang tak retak, tak ada yang sempurna di dunia ini.
- Tak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan pujian.
- Kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya.
- Sumber kekuatan baru adalah informasi di tangan orang banyak.
- Hal yang membuat kita senang terkadang dapat menyakitkan.
- Tiada gunung yang tak dapat didaki.
- Cinta anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa.
- Hidup yang tak menghasilkan apa-apa berarti hidup tiada guna.
- Seberangilah sungai pada bagian yang dangkal.
- Seseorang dikenal dengan siapa dia bergaul.
- Hati nurani adalah kehadiran Tuhan dalam diri manusia.
- Berpikirlah seperti manusia pelaksana.
- Bertindaklah seperti manusia pemikir.
- Memercayai diri sendiri adalah rahasia pertama keberhasilan.
- Kita tidak dapat belajar sesuatu tanpa adanya suatu kesulitan.
- Bertanya merupakan bagian penting dari usaha belajar.
- Bertanya dapat menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri.
- Berpikir positif akan dapat menyemangati diri.
Indahnya Cinta
Kamis, 16 Desember 2010
Kumpulan Kata Mutiara
Rabu, 15 Desember 2010
MANDIKAN AKU BUNDA
Kisah di bawah ini merupakan kiriman sohib saya, Kang Miroslav Arofik, yang dikirimkan ke email saya. Uih, membacanya langsung membuat saya menangis malam.... Kisah ini adalah salah satu contoh tragis dalam kehidupan seseorang. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya .....
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?'' Saya diam saja.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?'' Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
- Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
- Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.
- Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan
- kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
- Pelajaran yang sangat menyedihkan.
Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb.
Selasa, 14 Desember 2010
'ZAMAN EDAN' by Ronggowarsito
Hidup di zaman edan
gelap jiwa bingung pikiran
turut edan hati tak tahan
jika tidak turut
batin merana dan penasaran
tertindas dan kelaparan
tapi janji Tuhan sudah pasti
seuntung apa pun orang yang lupa daratan
lebih selamat orang yang menjaga kesadaran
(R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873)
Ronggowarsito adalah seorang pujangga penutup, pujangga terakhir yang mampu menangani persoalan-persoalan spiritual. Ia bekerja sebagai carik istana pada masa pemerintahan raja Paku Buwono IX. Sebagai seorang pujangga, ia memiliki kemampuan menangkap tanda alam dan tanda zaman, namungkrida. Bahkan, ia pun dapat meramalkan hari kematiannya sendiri.
Banyak hal yang dapat diramalkan Ronggowarsito, yaitu mengenai permasalahan sosial dan politik, termasuk mengenai kondisi alam dan masyarakat yang bergejolak diakibatkan para penguasa yang telah terjangkiti pamrih, kehendak untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan sendiri, keluarga atau pihak-pihak tertentu.
Kutukan zaman merupakan bahaya laten dalam dunia dan kehidupan manusia. Keedanan ada di setiap zaman, dan setiap orang mempunyai potensi yang sama untuk terangkiti penyakit zaman edan ini, meski dengan derajat kesempatan yang berbeda-beda.
Sikap eling mengajari manusia bahwa jati dirinya adalah makluk spiritual, dan mendorong untuk selalu berpegang kepada spiritualitas yang tidak lain adalah inti dirinya yang terdalam. Sikap waspada mengingatkan bahwa dorongan nafsu ke arah pinggir lingkaran eksistensi selalu ada ada di setiap sudut kehidupan, sehingga kewaspadaan harus tetap dijaga. Sedangkan sikap sabar mendorong manusia untuk menghayati sikap kewaspadaannya. Untuk bisa menanggulangi bahaya nafsu, diperlukan perjuangan yang tidak ringan dan bahkan perlu pengorbanan. Memerangi kejahatan tidak cukup dengan niat baik semata.
Karya-karya Ronggowarsito yang "futuristik" aslinya berbentuk tembang, dengan guru lagu (persanjakan) dan guru wilangan (jumlah suku kata) yang sistematis. Sedangkan penerjemahannya dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Berikut ini beberapa karya Ronggowarsito yang indah di bahasa dan maknanya. Baik untuk kita mengerti dan pahami. Monggo.....
""Apabila sudah sering menyaksikan hal-hal yang tak pernah terlihat, tanda kurang satu tahun... Setelah sering mendengar yang tak pernah terdengar, misalnya mendengar percakapan jin, setan dan binatang-binatang, tanda kurang setengah tahun... Seringnya berubah penglihatan, misalnya melihat langit berwarna merah, matahari dan bulan kelihatan hitam, bayangan dirinya kelihatan dua, tanda kurang dua bulan... Kalau kelihatan jarinya sudah berkurang, pergelangan tangan kelihatan putus, tanda kurang satu bulan... Setelah kelihatan rupa diri sendiri, tanda kurang setengah bulan... Bila telah merasa enggan, tidak menginginkan sesuatu, tanda kurang tujuh hari... Bila denyut tangan sudah tidak ada, gemerisik telinga berhenti, dan akhirnya ujung kemaluan sudah terasa dingin, tanda telah menginjak hari kiamat, bangkit secara pribadi." (Simuh, 1998)
Jika tidak demikian, pasti tertukar iblis, ketika ibunya bersenggama dengan bapaknya dulu, setan ikut bersenggama, jika bukan hantu, karenanya bertindak sesat, berlaku bejat, menindas sesama bangsa. Memuja nafsu diri, ingin dipuji sebagai pandai, perempuan lacur, nampak bagai bidadari, jika merasa tersinggung, sesama bangsa lalu berkelahi, tanpa tenggang rasa, mengancam-mengintimidasi, apakah akan begitu kalau memang berani. Beraninya dengan bangsa sendiri, sampai rela mengorbankan jiwa, biasanya orang yang memang pemberani, seperti Sultan Mangkubumi, pertapa dan rendah hati, selalu pandai membawa diri, segela perselisihan dihindari, berkata baik tak pernah menyakiti, sederhana namun mumpuni, tidak mau memusuhi bangsa sendiri. (Poerbatjaraka, 1954)
Gosip dan rumor menyebar
bagai angin membawa berita
janji pangkat dan kedudukan
namun semua hanya bualan
padahal jika dicerna
jadi pejabat untuk apa
bila menanam benih dosa
disiram air lupa
hanya akan berbunga bencana
Segala tugas dijalani
dengan segenap kekuatan hati
tiada masalah dan persoalan
karena hikmah telah mengajarkan
bahwa manusia wajib berusaha
sebagai jalan menuju keselamatan
dalam mencari penghidupan
selalu ingat dan waspada
mengharap kasih sayang Tuhan
Ya Allah, ya Rasulullah
pemilik sifat welas dan asih
semoga berkenan melimpahkan
pertolongan yang mencukupi
di dunia maupun kelak di akhirat nanti
aku sadar akan hidupku yang kini telah
di ujung akhir bagai senja yang merah
bagaimanakah akhir kisahku ini?
bimbingan Allah satu-satunya harapan
Di saat zaman terkena bencana
kerendahan budi merajalela
kekacauan di berbagai tempat
niat menyimpang dan berbuat jahat
kelurusan hati tak lagi terlihat
Mari perhatikan dan cermati
di zaman yang sedang terkena halangan
sebaiknya mengurangi nyala di hati
hanya membawa kepada kesusahan
buah dari jahatnya perbuatan
Hilangnya akal sehatnya
debu yang tertiup angin nafsu
tingkah polahnya membawa bencana
janji-janjinya membawa kecewa
tunggulah balasan yang akan tiba
Keadaan sudah sangat mengenaskan
tanda yang tiba memang benar adanya
terlalu menyedihkan untuk dirasa
menarik rasa iba orang negara lain
melihat pemandangan di zaman prihatin
Dengan tangan terlipat di dada
ki pujangga berkidung menasehati
dandang gula Palaran sejati
menghidupkan warisan leluhur
tekanan kebaikan dua penguasa
Warta dari para cerdik pandai
pertanda yang mengalir tanpa henti
ketika zaman berubah besar-besaran
kesulitan datang silih berganti
hidup makin berat dijalani
Puncak zaman terkutuk
kebenaran tak lagi tampak oleh mata hati
kejernihan pikiran telah tumbang
memang belum saatnya reda
bahkan malah makin menjadi
Perundangan berbaris-baris
dijalankan sekehendak hati
menjalani jalan keuntungan diri
gelap hati gelap tindakan
membawa kacau-balau isi dunia
Sekilas saja telah terlihat
keadaan zaman yang makin gawat
berantakan dan ruwet kehidupan umat
hilang sudah ketenangan
orang menangis di sembarang tempat
Membongkar gunung-gunung
melahap hutan-hutan
tanpa ada yang berani mencegah
takut terkena semburan ludah
yang beracun dan mematikan
Nanti akan datang orang suci
mengajak mencari kesatuan
pakaian berdebu bagai orang gila
mondar-mandir sepanjang jalan
memberitahukan kepada semua orang
Itulah saat redanya kutukan zaman
berganti zaman kesenangan
rakyat jelata tertawa gembira
berlimpah makanan dan pakaian
terlaksana setiap keinginan
Keinginan hati telah terlaksana
bagai air wayu sejuk menyiram jiwa
kesejahteraan turun-temurun tak pernah henti
persahabaan terjalin dengan banyak negara
dihormati di mana-mana
Harta kekayaan melimpah ruah
tidak ada yang merebut atau mencuri
hewan ternak di luar rumah
tiada hilang ataupun pergi
Merata di seluruh negeri
tampilnya pejabat pilihan dan ahli
tuntaskan persoalan besar maupun kecil
memegang amanah dan dapat dipercayai
kejayaan masa lalu telah kembali
Penglihatan pujangga belum berakhir
benang ditarik yang terus mengalir
namun terhambat oleh umur
kepastian ajal yang telah dekat
pulang ke ruma abadi
Kurang delapan hari lagi
saat kematian yang pasti
terlihat di lauhil mahfudz
jatuh saat tengah hari
pada hari Rabu Pon ini
Ditulis hari Rabu tanggal dua delapan
bulan Syawal tahun Jimakir
bertanda tahun candrasengkala
nembah muka pujangga ji
sang pujangga pamit mati
| Reaksi: |
Minggu, 12 Desember 2010
Sebuah Catatan dari Sebuah Kotak Hitam
Kemarin pagi seperti hari-hari minggu sebelumnya, aku berbelanja di pasar Kranggan ditemani anak dan suami tercinta. Selain disana aku bisa mendapatkan ikan-ikan yang segar, juga bisa buat refresh diri dr 6 hari yg menyibukkan.
Setelah selesai berbelanja aku menuju klenteng yg halaman depannya dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua. Aih, tiba-tiba terdengar musik Campursari yg mengalun dengan keras.
Dengan penasaran aku mencari dan melihat ke arah datangnya suara...
Yang ternyata suara itu berasal dari sebuah kotak suara hitam. Kotak itu dibawa oleh seorang ibu yang sedang menggendong batitanya.
Dan di depan ibu itu ada seorang bapak yg sedang menari mengikuti irama lagu campursari tersebut...
Hmm... pemandangan yg membuat hati trenyuh.
Pemandangan tentang perjuangan sebuah keluarga untuk mencari sesuap nasi...
Setelah selesai berbelanja aku menuju klenteng yg halaman depannya dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua. Aih, tiba-tiba terdengar musik Campursari yg mengalun dengan keras.
Dengan penasaran aku mencari dan melihat ke arah datangnya suara...
Yang ternyata suara itu berasal dari sebuah kotak suara hitam. Kotak itu dibawa oleh seorang ibu yang sedang menggendong batitanya.
Dan di depan ibu itu ada seorang bapak yg sedang menari mengikuti irama lagu campursari tersebut...
Hmm... pemandangan yg membuat hati trenyuh.
Pemandangan tentang perjuangan sebuah keluarga untuk mencari sesuap nasi...
Dengan harus turun ke jalan dan menghilangkan rasa malu yg pasti menggelayut di relung hati...
Mereka kompak mencari nafkah dengan menari di jalan untuk mengumpulkan receh demi receh dari orang-orang yg bersimpati atau... kasihan....
Mereka kompak mencari nafkah dengan menari di jalan untuk mengumpulkan receh demi receh dari orang-orang yg bersimpati atau... kasihan....
Ya Alloh... hatiku menitikkan air mata melihat ini.
Betapa masih banyak orang-orang yang harus bersusah payah dan menderita dahulu demi mengisi perut lapar mereka...
Betapa masih banyak orang-orang yang bernasib lebih menyedihkan daripada hambaMu ini.
Maafkan hambaMu ini ya Rabb...
Maafkan hamba yang seringkali masih belum bersyukur atas segala kemudahan yang telah engkau berikan selama ini...
Maafkan hamba ya Rabb.....

| Reaksi: |
CUKUP SUDAH CINTA
Tetes air itu bening.
Tetes air itu perih.
Sembilu itu terlalu dalam menikam ulu hatinya.
Hidup ini kejam.
Hidup ini suram.
Pelik cintanya dicumbu patriarkat yang terlalu mengikat.
Cinta kekasihnya murka.
Cinta kekasihnya buta.
Meluruhkan segala hormat, kasih, dan cinta.
Habis sudah jiwa.
Kelam sudah raga.
Terlalu lelah lautan khilaf menampungnya.
Cahaya itu redup sudah.
Malam pun menjadi sahabat.
Benih itu terlanjur tebarkan dosa di rahimnya.
Dia tertawa diatasnya.
Dia bahagia dengan tangisnya.
Dan dia pun muak dengan cinta kekasihnya.
Cukup sudah rasa.
Cukup sudah manusia.
Biarkan saja cinta itu membusuk di balik keangkuhannya.
buat teteh sexy…
sabar atuh teh… dunia ini Allah yang punya…
hapus sudah air mata… smile atuh for de world…
Tetes air itu perih.
Sembilu itu terlalu dalam menikam ulu hatinya.
Hidup ini kejam.
Hidup ini suram.
Pelik cintanya dicumbu patriarkat yang terlalu mengikat.
Cinta kekasihnya murka.
Cinta kekasihnya buta.
Meluruhkan segala hormat, kasih, dan cinta.
Habis sudah jiwa.
Kelam sudah raga.
Terlalu lelah lautan khilaf menampungnya.
Cahaya itu redup sudah.
Malam pun menjadi sahabat.
Benih itu terlanjur tebarkan dosa di rahimnya.
Dia tertawa diatasnya.
Dia bahagia dengan tangisnya.
Dan dia pun muak dengan cinta kekasihnya.
Cukup sudah rasa.
Cukup sudah manusia.
Biarkan saja cinta itu membusuk di balik keangkuhannya.
buat teteh sexy…
sabar atuh teh… dunia ini Allah yang punya…
hapus sudah air mata… smile atuh for de world…
"ROMANSA"..... de song 4m me 4 me....
Tersurut kebimbangan.
Membeku riuh asa.
Terhempas hampa.
Diam merana.
Terjerat bunga asmara.
Serasa membelai hati.
Terkulai indah romansa.
Hanyut jiwa menusuk angan ke raga.
Pesona asmara menjelma.
Tertelan untaian makna.
Sisi relung bathin rindukan.
Bunga mimpi saat terkatup mata.
Menanti lena kirana.
Membeku riuh asa.
Terhempas hampa.
Diam merana.
Terjerat bunga asmara.
Serasa membelai hati.
Terkulai indah romansa.
Hanyut jiwa menusuk angan ke raga.
Pesona asmara menjelma.
Tertelan untaian makna.
Sisi relung bathin rindukan.
Bunga mimpi saat terkatup mata.
Menanti lena kirana.
Sabtu, 11 Desember 2010
Mau Tak Mau Akhirnya Aku pun Mau.....
Hai hai hai... Assalamualaikum....
Akhirnya Miz Maroon punya blog jg nehhh.... heddehhh.... hari geneee.... baru bikin blog.... tungtung...
bukan apa2 seh... klo kmrn2 khan kitanya belom ngrasa butuh... tp ini dah kewajiban brouw.... hukumnya wajib 'ain... kudu....
hmm... gara2nya bu Ida Isandespha nech, dosen TI guweh... kita2 diwajibkan utk bikin blog.... ya udah, akhirnya dgn sedikit utak atik... jrengggg.... jadilah tulisan pertama ini....
N berhubung blog ini mrpakan situs pribadi... so kita bebas dunk mo nulis apa ajah... baik itu curhat tentang pacar, misua, tetangga, bahkan artis sekalipun, puisi, cerpen, modul, dsb...
bebas N lepaskan ekspresimu....
yup, ditengah suara kodok n tiktak jam dinding ini... stelah mencoba menanti wahyu yg tak kunjung datang, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan memake-up blog ini di esok hari...
wokeh beibeh... see U tomorrow.... hv a nice dream... lv U all.....
Wassalamualaikum....
Langganan:
Entri (Atom)




